Sharing dengan Good Housekeeping Indonesia

April kemarin Alhamdullilah Macaroni Mami sempat diliput oleh majalah Good Housekeeping ke rumah kami untuk melihat langsung proses pembuatan Macaroni, berikut sharingnya :

Kok bisa makaroni buatan Anda cepat menarik pelanggan?

Pembeli pertama tentu teman-teman dekat. Suami yang mahir di bidang IT pun mendukung dengan membuatkan website khusus untuk saya berjualan. Informasi dengan cepat menyebar. Keberuntungan lain, adik saya bekerja di bidang manajemen artis. Saat beberapa artis mencoba macaroni buatan saya dan suka, mereka pamer di Twitter. Follower-nya tentu banyak yang baca.

 

Memproduksi sampai berapa loyang sehari?

Saya masih memasak sendiri, rata-rata sehari dua kilo makaroni. Maksimal saya sanggup tiga kilo saja. Tapi saya tidak punya persediaan makanan matang. Saya baru membuat jika ada pesanan, agar fresh from the oven.

Resepnya Anda peroleh darimana?

Sebenarnya saya coba-coba saja membuat makaroni pada umumnya ya. Rebus makaroni sampai lembek tetapi tidak hilang bentuknya. Campurkan bumbu seperti bawang bombay, bawang putih, terigu, susu, garam, lada, telur, dan sebagainya. Tuangkan setengah loyang, taruh daging asap atau ayam hingga merata, tuangkan lagi adonan di atasnya lalu panggang di oven hingga atasnya kecoklatan.

Modal usaha besar tidak?

Saat memutuskan untuk serius awal September lalu, saya mengeluarkan dana untuk kardus buat kemasan, sekitar dua juta rupiah. Ditambah loyang dan bahan-bahan seperti makaroni, bisa mencapai empat juta.

Sudah untung?

Kalau saya hitung-hitung bahan membuat dengan harga jual, modal bisa kembali dengan cepat. Apalagi untuk bahan-bahan tertentu, saya baru belanja begitu ada pesanan. Harga jual makaroni sendiri mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 225.000 tergantung ukuran. Omzet terbesar menjelang Natal kemarin, bisa 2,7 juta sehari.

Anda tidak memiliki toko, dan tinggal di pinggiran kota, bagaimana mendistribusikan produk Anda?

Semua pesanan dikirim kurir atau diambil pembeli ke rumah. Ada juga pick up point di kantor adik saya daerah Kebayoran Baru. Rute pengiriman diperhatikan dengan cermat agar hemat ongkos.

Suka-dukanya?

Misalnya pesanan makaroni harus siap dikirim jam sembilan pagi, saya mulai mengolah masakan jam tiga pagi. Karena jam tujuh semua harus sudah siap dikemas. Seru kok punya bisnis sendiri. Pernah juga lho ‘mengejar’ pembeli sampai bandara, karena dia mau membawa macaroni untuk oleh-oleh. Menyenangkan!

Saran Anda dalam berbisnis makanan?

Jangan terpaku pada takaran bahan, percaya saja pada feeling Anda.

Bisa dilihat juga di website Good Housekeeping Indonesia

Semoga bermanfaat.

Macaroni Mami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *